Menko Airlangga: Fokus jaga daya beli dan lapangan kerja. BPS catat pertumbuhan tertinggi 13 tahun terakhir.
JAKARTA, +62 NEWS – Di tengah ketidakpastian global, Pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi Semester II 2026 senilai Rp26,34 triliun. Langkah ini diumumkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, BPS mencatat ekonomi Indonesia Q1 2026 tumbuh 5,61% yoy, tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Isi Paket Stimulus Rp26,34 Triliun
Airlangga menyebut stimulus dibangun di atas 3 pilar utama: penguatan konsumsi dan dunia usaha, peningkatan kualitas ketenagakerjaan dan kelas menengah, serta perlindungan sosial bagi masyarakat rentan.
Tujuannya menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi risiko eksternal.
Data BPS: Ekonomi Tumbuh 5,61%
Pertumbuhan Q1 2026 didorong konsumsi rumah tangga 5,52% yoy karena mobilitas saat Idulfitri 1447 H dan stimulus pemerintah.
Konsumsi pemerintah juga melonjak 21,81% yoy didorong THR/gaji ke-14 dan program Makan Bergizi Gratis. Investasi tumbuh 5,96% yoy.
Ke depan, pertumbuhan 2026 diprakirakan tetap kuat di kisaran 4,9-5,7% yoy.
Tantangan: Rupiah & Proyeksi OECD
Di sisi lain, rupiah sempat tembus Rp18.000 per dolar AS di tengah tekanan harga energi global. Ini berkontribusi pada defisit neraca perdagangan Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar.
OECD bahkan memproyeksi pertumbuhan Indonesia 2026 hanya 4,7% karena harga energi tinggi, biaya bunga, dan ketidakpastian kebijakan. Inflasi diproyeksi 3,4%.
Pemerintah optimis stimulus + program prioritas bisa meredam tekanan. Namun Bank Indonesia dan Kemenkeu tetap mewaspadai PMI manufaktur yang mulai kontraksi dan potensi arus modal keluar.
Reporter: [Rose]
Editor: +62 News
Sumber: IDISNews, BPS, Menko Perekonomian, OECD, BI
—







