๐บ๐๐๐๐๐ ๐ซ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐ ๐ฉ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ป๐๐๐๐๐, ๐ฒ๐๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐๐ ๐ด๐๐๐๐ ๐ซ๐๐๐๐๐ โ ๐จ๐๐ ๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ด๐๐๐๐๐๐ ๐ญ๐๐๐ ๐ฐ๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ฎ๐๐๐๐๐๐?
Film dokumenter โPesta Babiโ mendadak jadi sorotan publik setelah sejumlah agenda pemutaran dan diskusi disebut-sebut mengalami pembatasan di beberapa daerah. Namun alih-alih tenggelam, film ini justru semakin ramai dibicarakan, bahkan mulai diputar di lingkungan kampus dan sekolah.
Banyak yang bertanya: kenapa sebuah film dokumenter bisa memicu kegaduhan sebesar ini?
Padahal โPesta Babiโ bukan film sensasional. Tidak menawarkan adegan vulgar, tidak menjual horor, dan bukan pula cerita fiksi penuh dramatisasi. Film ini justru menyajikan potret nyata tentang kehidupan masyarakat adat Papua dan pergulatan mereka mempertahankan tanah leluhur di tengah derasnya ekspansi industri dan proyek besar.
Karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale tersebut menyoroti suara masyarakat adat Awyu, Muyu, Yei, dan Marind yang merasa ruang hidup mereka terus terdesak. Hutan yang selama turun-temurun menjadi sumber kehidupan perlahan berubah menjadi kawasan industri dan perkebunan skala besar.
Di balik istilah pembangunan dan investasi, film ini memperlihatkan sisi lain yang jarang muncul di ruang publik: kegelisahan masyarakat adat yang merasa kehilangan tanah, identitas, bahkan hubungan spiritual dengan alam tempat mereka hidup sejak lama.
Ironisnya, semakin film ini dianggap sensitif, rasa penasaran publik justru semakin besar. Banyak pihak mulai mempertanyakan alasan di balik pembatasan pemutaran film tersebut.
โKalau hanya sekadar film biasa, kenapa sampai harus dihentikan?โ menjadi pertanyaan yang terus muncul di media sosial dan forum diskusi publik.
Bagi sebagian penonton, โPesta Babiโ bukan sekadar tontonan dokumenter. Film ini dianggap sebagai cermin tentang bagaimana pembangunan sering kali menghadirkan dua wajah: kemajuan di satu sisi, tetapi juga kekhawatiran hilangnya ruang hidup masyarakat adat di sisi lain.
Film ini pun membuka percakapan yang lebih luas tentang Papua โ bukan hanya soal konflik atau keamanan, tetapi tentang manusia, budaya, dan hak masyarakat adat mempertahankan tanahnya sendiri.
Karena pada akhirnya, โPesta Babiโ bukan sekadar bicara tentang tradisi. Film ini bicara tentang identitas, martabat, dan hubungan manusia dengan tanah yang bagi sebagian masyarakat adat tidak bisa diukur dengan uang maupun proyek pembangunan sebesar apa pun.




