"The truth not justification"

"KEBENARAN BUKAN PEMBENARAN"

JUDUL: PERTANGGUNG JAWABAN KELAK DI LUAR ISTANA

PERHATIAN

Cerita ini adalah karya anak bangsa di bawah bendera “Cakar Kuku Garuda” yang peduli dengan semesta, sesama & BhinnekA TunggAl iKa (Indonesia).

Ditulis dengan niat mengingatkan, bukan menyudutkan.

Bila ada kesamaan nama, tempat, atau peristiwa, itu adalah kebetulan semata.

Mari kita doakan yang terbaik untuk negeri ini. 🙏

 

Subtitle: `Ketika Lengser, Diusir dari Istana oleh Ksatria Piningit`

Tags: `political-horror, ksatria-piningit, karma, korban ruang bawah tanah istana`


 

EPISODE 1: “SURAT LENGSER YANG TIDAK PERNAH DITANDATANGANI”

 

Malam terakhir di Istana. Jam 02:13 WIN. Tidak ada sidang. Tidak ada rapat. Tidak ada pengumuman. Hanya satu amplop coklat di meja panjang kerja.

Di dalamnya: `SURAT PERINTAH LENGSER` tanpa tanda tangan, tanpa stempel dan cap pos. Tapi ada cap lilin berbentuk keris. Dengan setetes darah di sampingnya.

“Siapa yang berani berisik begini, kemana pasukan mata palsu dan tangan palsu?” bisiknya di depan kuping orang kepercayaannya.

Penjaga menjawab: “Sepertinya penghuni asli sini pak, hantu gentayangan istana itu keluar lagi. Menjatuhkan beberapa kartu, salah satu yang terbuka Joker Merah lagi. Apakah ini pertanda… Korban sebelum kita hadir disini. Untuk yang di depan gerbang, sepertinya Ksatria Piningit, Pak. Terbukti ‘penghuni’ istana seperti menyambut mereka. Tidak ada satupun tanda-tanda yang menggagalkan kecuali kepada bapak.” Tutupnya dengan wajah dingin yang membeku.

Dia tertawa tapi tetiba-tiba terdiam, karena tidak satupun orang di sekelilingnya ikut tertawa. “Ksatria Piningit itu mitos.”

Tapi, tiba-tiba lampu sekitar luar istana padam. Genset tidak menyala. Hingga ke area teras dan masuk ke dalam. Hanya satu yang tetap menyala. Ya ruangan sakral yang selalu terkunci dan tidak seorangpun yang boleh membuka kecuali ada tanda sesuatu. Mulai terdengar di lorong berlantai marmer langkah sepatu hak bersahutan. Di iringi suara gigi beradu gigi, yang menahan kesakitan. Tidak banyak. Hanya 7 pasang. Dan, Suara letusan senjata api di satu ruangan, seperti adu tembak #62roullette. Lalu , Ada pula suara desahan sesama jenis di ruangan lainnya entah dimana. Tapi berat. Seakan membawa beban tapi di bawah jerat si jahat.

Di dinding, lukisan para pahlawan pendahulu yang selama ini diam. Mulai seperti bergerak , 1 per 1 matanya melirik, menatap tajam, mengedip. Ada tetesan air, dari bingkai itu. Tapi tidak ada air yang bocor dari atasnya. Sungguh aneh. Tapi nyata, ada apa sebenarnya? Siapa mereka. Bagaimana mungkin bisa hidup. Mereka semua sudah ku bunuh puluhan tahun lalu. Apakah mereka tahu siapa aku ? Bagaimana mungkin, ahhh… Aku adalah Londo Ireng. Tidak mungkin keluarga nenek moyangku membocorkan rahasia ini. Tapi kenapa orang di sekeliling ku kini berubah raut wajahnya. Tidak lagi sebagai pelayan yang memberi sambutan dan senyuman. Hmmm….

Tetiba telepon berdering. Membuat kaget orang rumah tangga, suara jantungku mulai berdegup menjadi terdengar. Terdengar suara dari luar pagar: “Bapak tidak sendiri. Ada kami disini, ayo pak  !!! Semua relawan sudah cuci kaki dan lari. Tak ada yang benar-benar sejati. Semua hanya karena sukses fee. Mereka yang lapar dan haus lah yang setia menunggu. Mereka yang kami wakili malam ini.” Ujarnya semangat, berharap dapat jatah makanan sisa dari istana.

Pintu yang tinggi, besar putih dan berat itu terbuka. Tidak ada yang mendorong, tidak ada angin, tidak ada yang masuk, kucing pun tidak. Tapi…. karpet merah itu mulai basah. Satu per satu. Ada jejak tapak kaki, perlahan namun pasti satu per satu menuju arah keluar.

Di meja tertinggal sebuah kotak, seperti kitab buku kuno dimana di atasnya terdapat sebuah belati yang di ikat kain bagaikan prasasti. Terlihat dari sisi ku berdiri. Di sisinya: ada beberapa foto-foto orang yang tak di kenal, daftar nama, dan kunci ‘bunker’ istana.

Ada catatan berwarna tinta merah tulisan tangan: `HARTA & ASET INI BUKAN MILIKMU. KAMI SITA. KECUALI MAU TUKAR DENGAN NYAWA ANAK ISTRI & PASUKAN MU. TANPA SUARA.`

Dia mulai melangkah keluar dengan takut dan malu, karena satu persatu yang selama ini melayani berubah seperti hantu. Diam tegak berdiri, dengan muka pucat, senyum yang dingin, sorot mata yang tajam seperti hendak menarik hidup-hidup siapapun yang berani melihatnya dengan tajam. Tidak ada satupun yang di samping berdiri mengantar, seperti tadi sore. Hanya angin.

 

`BERSAMBUNG: EPISODE 2 “GERBANG YANG MENOLAK”`