Kita baru saja menyaksikan fakta kontras yang cukup memprihatinkan. Pemandangan di KTT ASEAN Cebu, Philipina yang membuat saya berpikir tajam.
Bukan sekadar diplomasi, tapi soal cara kita mengelola sekala kepentingan dan pencapaian.
Kontek paradoknya…
Bayangkan sebuah panggung di mana si pemberi utang dan si penghutang bertemu.
Singapura itu kreditor terbesar kita. Kalau ditotal dari swasta, BUMN, sampai berbagai instrumen lainnya, utang Indonesia ke mereka itu hampir tembus Rp1.000 triliun. Angka yang bukan cuma besar, tapi raksasa.
Tapi perhatikan perbebedannya :
Si tetangga yang memegang piutang ribuan triliun itu datang ke perhelatan dengan sangat sederhana, naik penerbangan komersial, nyaris tanpa suara. Sementara kita?
datang dengan segala keramaian, membawa pesawat khusus dan kargo Hercules seolah unjuk kekuatan. Kita sedang mempertontonkan kekayaan di depan pihak yang justru membiayai kemewahan tersebut. Ini bukan lagi soal protokol, ini soal martabat yang tertukar antara substansi dan citra.
Rasanya seperti melihat seseorang yang rumahnya masih dicicil dari bank, tapi nekat menggelar pesta pora di depan manajer kredit banknya sendiri. Sebuah upaya pembuktian yang justru memperlihatkan ketidakpercayaan diri kita sebagai bangsa.
Bayangkan, Lawrence Wong, PM Singapura, mendarat di Cebu. Beliau turun dari Singapore Airlines, penerbangan komersial biasa. Turun dari garbarata layaknya penumpang umum kebanyakan.
Tanpa drama, tanpa perlu membuktikan apa-apa. Di hari yang sama, delegasi negara kita tiba dengan pesawat kenegaraan, lengkap dengan pesawat Hercules yang khusus mengangkut mobil Maung demi gengsi protokoler.
Itu bukan gaya hidup orang kaya. Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya. Dan dalam bisnis, ini adalah jebakan maut. Praktik yang lazim kita saksikan, pebisnis yang tongkrongan mewah tapi pencapaiannya payah
Sibuk memoles bungkus, sewa kantor di gedung mahal, atau beli kendaraan mewah demi gengsi, padahal arus kasnya sedang sesak. Pebinis cerdas paham: Sekala operasional harus mencerminkan kesehatan finansial, bukan sekadar ego.
Jangan sampai bisnis Anda terlihat mentereng di luar, tapi di dalam sebenarnya sedang berdarah-darah karena biaya operasional tak efisien. Lawrence Wong berani tampil sederhana karena dia tahu ekonomi negaranya kuat.
Dia tidak butuh validasi dari kemewahan protokoler. Fakta brutal lainnya : banyak owner bisnis yang terjebak di operasional harian karena mereka lebih fokus ke image daripada sistem
Mereka takut kalau tidak turun tangan langsung, bisnisnya tidak terlihat “wah”. Padahal, bisnis yang benar-benar besar adalah bisnis yang tetap berjalan kokoh meski pemiliknya hanya “naik penerbangan komersial” tanpa pengawalan.
Kesederhanaan sistem adalah puncak dari kecanggihan manajemen. Jangan sampai Anda sibuk memamerkan “Maung” sementara organisasi bisnis Anda masih banyak bergantung pada kehadiran Anda 24 jam.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa atribut untuk membuktikannya. Begitu juga dengan bisnis Anda. Sesuaikan penampilan dengan pencapaian.
Karena bisnis yang sehat adalah yang kuat di neraca, bukan cuma megah di citra semata. Setuju?









