The truth not justification

(Kebenaran Bukan Pembenaran)

Advertisement

Yesus mati di bunuh oleh orang romawi, bangkit dari kubur dan naik ke Surga melawan gravitasi

Ungkapan “Ia membawa tawanan-tawanan”, Berasal dari Kata Alkitab Efesus 4:8:

“Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; dan Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.”

Ayat ini sering menimbulkan pertanyaan: siapa sebenarnya “tawanan-tawanan” itu?

Secara alkitabiah, ada beberapa penjelasan yang saling berkaitan.

• Pertama, banyak penafsir memahami bahwa “tawanan-tawanan” menunjuk kepada orang-orang benar Perjanjian Lama yang menantikan keselamatan Mesias.

Sebelum kematian dan kebangkitan Yesus, orang mati digambarkan berada di alam maut (Sheol/Hades).

Dalam Lukas 16:22,

Yesus menceritakan Lazarus dibawa ke “pangkuan Abraham,” tempat penghiburan bagi orang benar.

Ketika Yesus mati di kayu salib, 1 Petrus 3:18-19 dan 1 Petrus 4:6 sering dihubungkan dengan karya Kristus di dunia orang mati.

Setelah Ia menang atas dosa dan maut melalui kebangkitan-Nya, Ia membuka jalan penuh menuju hadirat Allah.

Karena itu ada pemahaman bahwa saat naik ke surga, Kristus membawa umat percaya yang dahulu menantikan penebusan-Nya masuk ke kemuliaan surgawi.

Namun ada juga arti kedua yang sangat kuat:

“tawanan-tawanan” bisa menggambarkan musuh-musuh yang telah dikalahkan Yesus — dosa, maut, iblis, dan kuasa gelap.

Gambaran ini berasal dari budaya raja pemenang perang. Seorang raja yang menang akan masuk kota sambil membawa tawanan perang sebagai tanda kemenangan total.

Jadi Efesus 4 menggambarkan Yesus sebagai Raja yang menang mutlak atas kuasa dosa.

Kolose 2:14-15 berkata: “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.”

Artinya, salib bukan kekalahan Kristus, melainkan kemenangan terbesar-Nya. Jadi secara alkitabiah, ungkapan itu mengandung makna kemenangan Yesus:

Ia menebus umat-Nya, mengalahkan maut, membebaskan orang percaya, dan menawan kuasa yang dahulu memperbudak manusia.

Karena itu, kenaikan Yesus ke surga bukan sekadar “pulang ke surga,” tetapi per-arak-an kemenangan Raja segala raja.