"The truth not justification"

"KEBENARAN BUKAN PEMBENARAN"

kapan Komdigi mau minta maaf ke rakyat Indonesia karena menganggap video karhutla itu sebagai fitnah

Ibu Meutya Hafid,,,, Menkomdigi INDONESIA…

Ibu pernah merasakan apa itu dibungkam…Pada 15 Februari 2005 di Ramadi, Ibu dan Bang Budiyanto disekap 168 jam oleh keLompok bersenjata. Tidak bisa telepon keluarga, tidak bisa kirim kabar, kebebasan dirampas orang yang merasa punya kekuasaan Lebih.

Waktu itu seLuruh Indonesia berdoa buat Ibu. Presiden SBY sampai tampil di Al-Jazeera bilang “ini wartawan Indonesia, jangan sakiti”. Rakyat yang Ibu tidak kenal ikut aksi lilin di Bundaran HI buat Ibu…. Karena kami tahu rasanya ketika kebenaran dibungkam senjata itu seperti apa.

Sekarang 21 tahun kemudian,,,, Ibu duduk di kursi yang mengatur kebebasan itu… MENKOMDIGI…

Tapi kenapa sekarang giliran rakyat Kalimantan yang posting langit kuning karena karhutla, akunnya pada hilang????? Kenapa unggahan ibu-ibu di KaLimantan yang video anaknya sesak nafas karena asap gambut, jangkauannya tiba-tiba 0????

Kenapa akun seperti @cabinetcouture_idn yang cuma spill harga tas pejabat bisa dapat label “Account not available in Indonesia because we complied with a legal request from KOMDIGI”????

Ibu bilang perang Lawan judi online. Kami dukung,,,,. Tapi sejak kapan video kabut asap KARHUTLA masuk kategori judi online????

Ibu tahu rasanya jadi tawanan. Dulu Ibu ditolong karena kamera dunia menyorot Irak. Sekarang rakyat kami jadi tawanan asap KARHUTLA, butuh kamera dunia menyorot Kalimantan, tapi justru kameranya Ibu yang matikan lewat permintaan takedown dan shadow block!!!!!

Masih ingat judul buku yang Ibu tuLis???
“168 Jam dalam Sandera”. Sekarang ada jutaan orang sudah 1680 jam lebih dalam sandera asap karhutLa.

Bedanya,,,,,penyandera Ibu dulu pakai topeng dan AK-47. Penyandera mereka sekarang pakai algoritma dan surat permintaan pembatasan konten dari Komdigi…iya… jabatan yang ibu duduki sekarang.

Maaf Bu,,,,, ini bukan soal benci pemerintah…tapi ini soal tau diri. Ibu yang dulu diselamatkan oleh kebebasan pers, seharusnya jadi orang pertama yang menjaga kebebasan pers itu, bukan orang pertama yang minta platform untuk membatasinya.

Kalau duLu Mujahidin Irak akhirnya minta maaf ke rakyat Indonesia setelah sadar Ibu wartawan, kapan Komdigi mau minta maaf ke rakyat Indonesia karena menganggap video karhutla itu sebagai fitnah????

Jangan jadi seperti orang yang dulu tenggelam lalu diselamatkan, setelah di atas kapal malah mendorong orang lain yang tenggelam biar tidak seLamat.

يَا جَبَّارُ اجْبُرْ كَسْرِي، وَارْحَمْ ضَعْفِي.