JAKARTA – Rentetan dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah. Dalam kurun empat hari terakhir, sedikitnya 1.935 orang dilaporkan mengalami gejala dan mendapat penanganan medis, tersebar dari Jawa, Sumatera hingga Sulawesi.
Angka tersebut merupakan akumulasi laporan kasus di Sidoarjo, Rembang, Agam, Nganjuk, dan Tana Toraja yang muncul sejak 1 hingga 3 September 2026.
Kasus terbesar terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Hingga Kamis (3/9/2026), jumlah penerima manfaat yang mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG mencapai 666 orang. Sebanyak 581 pasien telah diperbolehkan pulang, 77 masih menjalani rawat inap dan enam lainnya dalam observasi.
Di Rembang, Jawa Tengah, sebanyak 750 orang di SMAN 1 Lasem, terdiri dari 725 siswa dan 25 guru, mengalami diare massal pada Kamis (3/9). Keluhan muncul setelah mereka mengonsumsi menu MBG sehari sebelumnya. Pihak sekolah kemudian memulangkan para siswa dan meminta penanganan medis.
Kasus juga terjadi di luar Pulau Jawa. Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sebanyak 334 penerima manfaat di Kecamatan Palupuh dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG. Mereka berasal dari sejumlah sekolah di tiga nagari. Penyebab pastinya masih dalam pemeriksaan.
Sementara di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 136 siswa SMPN 1 dan SMPN 2 Makale dilarikan ke tiga rumah sakit pada Kamis (3/9). Mereka mengalami keluhan seperti lemas, mual, sakit kepala dan sakit perut setelah menyantap MBG yang dibagikan sehari sebelumnya.
Di Nganjuk, Jawa Timur, 49 orang yang terdiri dari 48 siswa dan seorang guru SMAN 3 Nganjuk juga mendapat perawatan setelah mengalami mual, pusing hingga muntah beberapa jam setelah menyantap menu MBG pada Rabu (2/9).
Rentetan kejadian ini kembali menyoroti persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Namun, angka 1.935 tersebut merupakan jumlah orang yang dilaporkan mengalami gejala atau mendapat penanganan setelah mengonsumsi MBG, bukan berarti seluruhnya telah terbukti secara laboratorium mengalami keracunan akibat makanan MBG.
Di sejumlah daerah, pemerintah dan petugas kesehatan masih melakukan pemeriksaan sampel makanan serta penelusuran untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.














