Dunia cyber di era yang makin canggih ini, masih menjadi incaran para kriminal-kriminal di perumahan. Mereka dengan sengaja menyadap dan menggarap milik tetangganya yang di anggap lebih sukses dari dirinya. Adapun maksud dan tujuan dari menyadap dan mencuri data pribadi seperti video rekaman untuk di jadikan alat pemerasan maupun untuk di permalukan di dunia maya. Berharap dengan di lakukannya demikian, dia berhasil mendapatkan upah sesuai pesanan dari orang yang membayar. Sebut saja namanya Sirik (56 th), dia mendapat tugas dari partai politik tertentu yang meniginkan tetangganya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk mencuri video rekaman pribadinya. Agar ketika tiba waktunya, video yang hillang itu akan di publish seolah-olah yang melakukan adalah hacker. Padahal, sirik lupa mencuri data dari wifi yang di pakai banyak orang tidak begitu saja bisa hilang tanpa bekas.
Karena setiap jaringan wifi memiliki kelebihan dan kekurangan. Makin murah jaringan tersebut maka makin lemah pula kwalitasnya. Sehingga perihal penyadapan dan pencurian data dapat terdeteksi oleh siapapun yang biasa hidup di atas jaringan.
Beberapa kasus penyadapan berhasil terbongkar oleh agen penyidik swasta “The Take thief” di bilangan cimanggis, depok. Salah satu dari crew agen swasta tersebut mengatakan. Kejahatan cyber itu sangat komplek. Rekam jejak seseorang yang melakukan penyadapan atau masuk dalam tim perencana pun dapat segera mudah di ketahui. Karena ya itu tadi, meninggalkan jejak di HP itu tidak cukup dengan menjual HP, menghancurkan/ merusak Imei dan atau lainnya. Karena semua itu sudah lengket sebagaimana sidik jari di telapak tangan, jadi sangat tidak mungkin seseorang dengan sengaja melakukan kejahatan bisa menghilang begitu saja. Kalaupun banyak kasus cyber tidak terbongkar, itu bukan karena kelemahan system. Melainkan lebih ke arah “kepentingan” para petugas tersebut demi mendapatkan cuan.







