Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kembali jadi sorotan. Bukan cuma karena ucapannya yang simpel tapi bikin mikir, “pokoknya ada”, tapi juga karena lonjakan kekayaannya yang cukup signifikan.
Dalam laporan LHKPN terbaru (periodik 2025), total harta Teddy tercatat mencapai Rp20,1 miliar, naik sekitar Rp4,7 miliar dari sebelumnya Rp15,3 miliar di 2024.
Lonjakan ini terjadi di tengah perhatian publik terhadap transparansi anggaran, khususnya terkait program Pasar Murah. Saat ditanya soal sumber pendanaan, Teddy tidak menjelaskan secara rinci—hanya memastikan bahwa semuanya sudah diperhitungkan pemerintah.
Rincian Kekayaan
Tanah & Bangunan: Rp9,04 miliar
Kendaraan: Rp1,21 miliar
Harta bergerak lainnya: Rp7,7 miliar
Kas & setara kas: Rp2,14 miliar
Total: Rp20,11 miliar
Utang: Nihil
Mayoritas aset berasal dari properti yang tersebar di beberapa daerah, termasuk Sragen, Bekasi, dan Minahasa.
Profil Singkat
Teddy Indra Wijaya:
Lahir: 14 April 1989 (usia 36 tahun)
Lulusan Akmil 2011
Pernah jadi ajudan Presiden Jokowi
Kini menjabat Seskab di era Presiden Prabowo
Yang Jadi Pertanyaan
Kenaikan harta itu sendiri bukan hal yang salah. Tapi dalam konteks pejabat publik, transparansi itu bukan opsional—itu wajib.
Kalimat “pokoknya ada” mungkin cukup di ruang santai. Tapi di ruang publik, orang butuh lebih dari sekadar keyakinan—mereka butuh penjelasan.
Sekarang pertanyaannya sederhana: Ini murni hasil kerja dan investasi?
Atau ada hal yang belum sepenuhnya dijelaskan ke publik?
Realitanya, kepercayaan publik itu mahal. Sekali goyah, susah balik.
Menurutmu gimana? Normal atau perlu dijelaskan lebih dalam?



















