Negara menganggap agama sebagai ancaman, dan banyak pendeta ditangkap karena tetap melayani secara diam-diam.
Di tengah situasi itu, seorang pendeta bernama Sergei Petrovich tetap setia memberitakan Injil, meskipun ia tahu risikonya adalah penjara, bahkan kematian.
Akhirnya, ia benar-benar ditangkap oleh aparat.
Tanpa proses yang adil, ia dimasukkan ke dalam penjara di wilayah Moldova. Namun hukuman yang diberikan kepadanya bukan sekadar penjara biasa.
Ia sengaja ditempatkan dalam sel isolasi, tanpa makanan, dengan tujuan menghancurkan imannya secara perlahan.
Kepala penjara yang menangani kasusnya adalah seorang ateis keras. Dengan nada mengejek, ia berkata:
“Kalau Tuhanmu itu ada, suruh Dia kirim roti untukmu di sini!”
Ucapan itu bukan sekadar sindiran, tetapi tantangan yang kejam. Seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa iman Sergei hanyalah ilusi.
Hari pertama berlalu, tidak ada makanan.
Hari kedua, tubuh Sergei mulai melemah. Rasa lapar semakin menyiksa.
Dalam kondisi seperti itu, banyak orang akan mulai meragukan Tuhan.
Namun Sergei memilih tetap berdoa. Ia tidak membalas ejekan itu. Ia hanya berserah.
Lalu sesuatu yang tidak masuk akal mulai terjadi.
Pada suatu pagi, ia mendengar suara di jendela kecil selnya. Ketika ia mendekat, ia terkejut melihat sepotong roti tergeletak di sana.
Ia memegangnya dengan tangan gemetar — itu nyata.
Ia makan dengan penuh syukur, menyadari bahwa Tuhan tidak meninggalkannya.
Keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Roti kembali muncul.
Bahkan berlangsung beberapa hari berturut-turut. Sergei mulai menyimpan sebagian roti itu sebagai bukti.
Para penjaga pun heran, bagaimana mungkin seorang tahanan yang tidak diberi makan bisa tetap hidup?
Ketika mereka melihat roti itu, mereka menuduh ada yang menyelundupkan makanan.
Mereka memutuskan untuk menyelidiki.
Saat mereka sedang mengawasi, suara itu kembali terdengar di jendela. Dan mereka melihatnya sendiri,
seekor kucing melompat ke jendela, membawa sepotong roti di mulutnya.
Semua terdiam.
Ternyata setelah ditelusuri, kebenaran yang lebih mengejutkan terungkap:
🐱 Kucing itu ternyata milik anak perempuan kepala penjara.
🍞 Roti itu dibuat sendiri oleh istri kepala penjara, tanpa mereka sadari, setiap hari kucing itu mengambil roti dari rumah mereka dan membawanya ke sel Sergei.
Peristiwa itu mengguncang hati kepala penjara.
Ia yang sebelumnya berkata, “Suruh Tuhanmu kirim roti,” kini melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Jawabannya,
Tuhan memang tidak menurunkan roti langsung dari langit.
Namun Ia mengambil roti dari rumah orang yang tidak percaya…
dan mengirimkannya melalui seekor kucing.
Di situlah letak mujizat yang sesungguhnya. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah kehabisan cara. Ia tidak terikat oleh keadaan, tidak dibatasi oleh tembok penjara, bahkan tidak tergantung pada orang yang percaya kepada-Nya.
Ia berdaulat penuh, dan dapat memakai siapa saja untuk menggenapi kehendak-Nya.
Sergei mungkin dipenjara secara fisik, tetapi imannya tidak bisa dikurung. Sebaliknya, justru hati orang yang menantang Tuhan mulai runtuh.
Karena pada akhirnya, bukan Sergei yang kalah oleh penjara — melainkan kesombongan manusia yang kalah oleh cara kerja Tuhan yang sederhana namun tak terbantahkan.
Kata Alkitab
Yesaya 55:8–9
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu… jalan-Ku lebih tinggi dari jalanmu.”





















