Pesta Babi, film dokumenter karya Dandhy Laksono dkk yang membahas soal ekploitasi besar-besaran tanah Papua ini sekarang sedang ramai dibahas di media sosial. Film ini disambut dengan banyak air mata, mengingat apa yang terjadi dan dialami oleh saudara-saudara kita di Papua.
Film ini juga mendapat banyak dukungan dan solidaritas dari berbagai pihak serta komunitas, yang memang peduli kepada sesama anak bangsa dan orang-orang yang tertindas.
Tetapi, film ini juga dicekal dan dihalangi di berbagai tempat dengan narasi yang kurang lebih sama: film pemecah belah dan provokasi.
Yang unik adalah, pihak yang menghalangi pemutaran film Pesta Babi punya banyak kemiripan. Pertama, mereka pihak atau instansi yang berhubungan dengan pemerintah atau yang berkaitan. Kedua, ini yang konyol, mereka melarang pemutaran film dengan alasan filmmya provokatif, tetapi mereka sendiri tidak atau belum melihat film secara utuh.
Ini semacam melarang sesuatu hal tanpa alasan yang logis dan ketika ditanya jawabannya, mereka hanya bisa jawab seperti yang dicontohkan Ses Teddy, “Pokoknya ada.”
Padahal film ini membawa pesan penting bahwa, apa yang terjadi di Papua adalah kejahatan sistematis dengan dampak genosida dan ekosida yang mengerikan. Ribuan buldozer sedang menghancurkan jutaan ekosistem hutan yang merupakan paru-paru dunia dan sumber hidup orang Papua.
Berbagai suku di Papua kehilangan tanah dan wilayah adat, puluhan ribu tentara masuk ke kampung-kampung dalam operasi untuk mengawal proyek-proyek tambang dan perkebunan. Mereka bertindak represif kepada rakyat lokal yang mempertahankan haknya.
Lebih dari 100 ribu orang di Papua terusir dari tanah mereka, dari kampung halaman asli mereka. Semuanya terjadi dalam waktu bersamaan dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Terjadi di depan mata kita, di depan mata dunia. Tetapi kita tidak menyoroti hal ini, karena terlalu sibuk dengan perkara receh macam pernikahan anak artis atau berita tidak penting lainnya.
Film ini memang akan menganggu pihak-pihak yang terlibat dan mendapat untung dari kegiatan dan kejahatan kolonialisme di zaman modern ini. Itulah kenapa, postingan ini pun punya risiko tersendiri.
Tetapi tak mengapa. Setidaknya dengan saya melakukan ini, saya dengan jelas berada di posisi yang mana. Posisi yang menolak kezaliman, menolak ketidakadilan, menolak penjajahan. Yang sayangnya, itu dilakukan oleh bangsa kita sendiri.








































