"The truth not justification"

Kebenaran Bukan Pembenaran

Advertisement

Uskup Belo, Peraih Nobel Perdamaian

Dari Pahlawan Kemerdekaan Timor Leste hingga Kontroversi Pelecehan yang Mencoreng Gereja

Sejarah kadang melahirkan tokoh besar dengan kisah yang tidak pernah sederhana. Carlos Filipe Ximenes Belo adalah salah satunya. Ia pernah dipuja sebagai suara rakyat tertindas, simbol perlawanan tanpa kekerasan, dan peraih Nobel Perdamaian. Namun puluhan tahun kemudian, namanya kembali mencuat—bukan karena perjuangan, melainkan karena tuduhan pelecehan seksual yang mengguncang dunia Katolik dan Timor Leste.

Carlos Filipe Ximenes Belo lahir pada 3 Februari 1948 di Wailacama, Timor Timur. Ia tumbuh dalam lingkungan Katolik yang kuat dan kemudian memilih jalur religius. Tahun 1974, ia mengucapkan kaul terakhir bersama Ordo Salesian Don Bosco. Enam tahun kemudian, pada 1980, ia ditahbiskan menjadi imam. Kariernya di gereja berkembang cepat. Pada 1983, ia diangkat sebagai administrator apostolik gereja di Timor Timur. Lima tahun kemudian, tahun 1988, ia ditahbiskan menjadi Uskup Dili.

Saat itu, Timor Timur berada di bawah kendali Indonesia setelah integrasi tahun 1975. Ketegangan politik, operasi militer, dan konflik berkepanjangan membuat wilayah itu menjadi salah satu daerah paling sensitif di Asia Tenggara. Di tengah situasi tersebut, Belo muncul sebagai suara yang berani.

Sebagai pemimpin spiritual wilayah yang mayoritas Katolik, Belo menjadi juru bicara rakyat Timor Timur. Ia secara terbuka mengecam kebijakan represif dan tindakan brutal yang terjadi selama konflik. Sikapnya membuat ia berada dalam bahaya. Setidaknya dua kali ia menjadi target percobaan pembunuhan, pada tahun 1989 dan 1991.

Namun ancaman tidak membuatnya mundur. Ketika pembantaian Santa Cruz terjadi di Dili pada 1991—peristiwa yang menewaskan demonstran damai—Belo mengambil langkah berani. Ia berkampanye untuk reformasi militer dan bahkan mendesak pemecatan dua jenderal. Langkah itu membuat namanya semakin dikenal dunia internasional.

Belo percaya pada perlawanan tanpa kekerasan. Pada Juli 1994, ia menulis surat terbuka yang menguraikan keprihatinannya terhadap rakyat Timor Timur. Ia mendesak pemerintah Indonesia untuk mengurangi kehadiran militer, memperluas hak sipil, dan mengizinkan referendum demokratis. Gagasan itu kemudian menjadi kenyataan. Referendum 1999 membuka jalan bagi kemerdekaan Timor Leste pada 2002.

Perjuangan damai Belo mendapat pengakuan dunia. Pada 1996, ia bersama José Ramos-Horta dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Dunia melihatnya sebagai simbol keberanian moral. Timor Leste melihatnya sebagai pahlawan.

Namun setelah kemerdekaan, kisah Belo berubah arah. Pada November 2002, ia tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatan Uskup Dili dengan alasan kesehatan. Pengunduran diri ini terjadi ketika usianya masih 20 tahun lebih muda dari usia pensiun normal. Keputusan itu memunculkan tanda tanya.

Setelah pensiun, Belo dikirim ke Mozambik sebagai misionaris. Ia hidup sederhana sebagai asisten imam di Maputo. Ia mengajar katekismus, membimbing retret pemuda, dan menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan publik.

Selama bertahun-tahun, kisah Belo tampak selesai. Hingga kemudian, kontroversi besar muncul.

Pada 2022, majalah Belanda De Groene Amsterdammer menerbitkan laporan investigatif yang mengungkap tuduhan pelecehan seksual terhadap Belo. Dua pria mengaku menjadi korban pelecehan saat mereka masih remaja pada tahun 1990-an. Laporan itu langsung mengguncang Timor Leste dan dunia Katolik.

Vatikan kemudian mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima laporan tersebut sejak 2019. Pada 2020, Vatikan menjatuhkan sanksi terhadap Belo. Ia dilarang melakukan kontak dengan anak di bawah umur, dibatasi dalam perjalanan, dan dibatasi dalam pelayanan gereja. Pada November 2021, sanksi tersebut diperketat.

Pengungkapan ini memicu pertanyaan besar. Mengapa kasus ini baru muncul puluhan tahun kemudian? Apakah pengunduran diri Belo tahun 2002 terkait dengan tuduhan tersebut?

PBB dan kelompok advokasi korban meminta penyelidikan lebih lanjut terhadap alasan pensiun dini Belo dan pengirimannya ke Mozambik. Mereka mempertanyakan apakah pemindahan itu merupakan bentuk perlindungan.

Kontroversi juga meluas ke Portugal dan Mozambik. Jaksa Agung Portugal menyelidiki kemungkinan penutupan kasus oleh pejabat gereja. Uskup José Ornelas, kepala Konferensi Wali Gereja Portugal, ikut diperiksa terkait dugaan menutup kasus pelecehan di Mozambik. Ornelas membantah tuduhan dan berjanji bekerja sama dengan penyelidikan.

Uskup Agung Lisbon Manuel Clemente bahkan meminta maaf kepada umat Katolik atas luka yang ditimbulkan oleh dugaan pelecehan tersebut. Ia meminta umat tetap percaya pada gereja.

Di Timor Leste, reaksi masyarakat terbelah. Sebagian terkejut dan kecewa. Sebagian lainnya tetap mendukung Belo karena jasanya dalam kemerdekaan.

Gregoriu Saldanha, pemimpin Komite 12 November, mengatakan bahwa mereka tetap berdiri bersama Belo. Menurutnya, jika Belo melakukan kesalahan, itu adalah kesalahan pribadi, bukan kesalahan agama.

Namun bagi sebagian lainnya, tuduhan tersebut menjadi pukulan berat. Sosok yang selama ini dianggap pahlawan kini berada dalam bayang-bayang kontroversi.

Lalu bagaimana keadaan Belo sekarang?

Carlos Filipe Ximenes Belo kini hidup dalam kondisi sangat terbatas. Ia tidak lagi aktif dalam pelayanan publik gereja. Pergerakannya dibatasi Vatikan. Ia juga dilarang kembali ke Timor Leste tanpa izin khusus. Kehidupannya kini jauh dari sorotan, berbeda dengan masa ketika ia menjadi simbol perjuangan.

Kisah Carlos Ximenes Belo menjadi ironi sejarah. Ia pernah menjadi suara rakyat tertindas, peraih Nobel Perdamaian, dan pahlawan kemerdekaan. Namun puluhan tahun kemudian, ia menghadapi tuduhan yang mengubah cara dunia melihatnya.

Sejarah tidak pernah hitam putih. Carlos Ximenes Belo adalah contoh nyata bagaimana satu tokoh bisa menjadi pahlawan dan kontroversi dalam waktu yang sama.

Dan hingga hari ini, namanya tetap berdiri di antara dua sisi sejarah—kemerdekaan dan kontroversi.