Di zaman ketika es-es purba terakhir mencair dan gunung-gunung masih berasap seperti dupa para dewa, hiduplah penguasa samudera bernama Tete Manis.
Ia berjalan di atas Lautan Pasifik dengan kaki telanjang, menenteng keranjang tanah liat dan abu bintang-bintang.
Dengan kedua tangannya ia membentuk dunia dari tanah liat merah dari semesta.
Ia membentuk pegunungan seperti punggung naga.
Ia menumpahkan sungai-sungai seperti urat nadi kehidupan.
Ia meniupkan kabut ke lembah-lembah agar manusia kelak mengenal rindu.
Namun pada hari terakhir penciptaan, ketika senja turun dan lengannya mulai letih, masih tersisa segumpal tanah liat merah di telapak tangannya.
Maka Tete Manis mengebaskan tangan yang penuh tanah liat itu ke arah Samudera Hindia.
Debu tanah beterbangan.
Pecahan-pecahan tanah menjelma menjadi tujuh belas ribu pulau yang tersebar dari Pulau Sabang di Barat sampai Sungai Maro di Timur.
Dan yang paling besar, paling hijau, paling kaya, jatuh jauh di Timur: Papua.
Di pulau itu emas berkilau di perut gunung, gas bernapas di bawah laut, sungai-sungai membawa kehidupan, dan rawa-rawa purba berdiri seperti kitab tua yang dijaga leluhur. Burung-burung cenderawasih menari di pagi hari seolah langit sendiri sedang jatuh cinta pada bumi.
Dari tanah itulah lahir seorang lelaki bernama Papua.
Tubuhnya tinggi tegap seperti batang sagu di rawa Sungai Maro. Bahunya selebar hutan hujan basah. Matanya dalam dan sunyi seperti Sungai Membramo ketika malam turun. Ia bukan hanya manusia—ia adalah penjaga tanahnya sendiri.
Lalu dari Barat, datanglah seorang perempuan bernama Jakarta.
Jakarta begitu cantik dan memabukkan.
Dalam dirinya mengalir darah banyak bangsa: Belanda, Arab, India, Melayu, Tionghoa, Bugis, Toraja, Minahasa, NTT.
Ia adalah perempuan yang dibentuk dari pelabuhan, perdagangan, musik, pesta, dan ambisi.
Rambutnya hitam mengilat seperti aspal setelah hujan. Bibirnya manis seperti candu kekuasaan.
Papua jatuh cinta padanya.
Enam puluh tahun lalu mereka mengikat janji di bawah langit Nusantara. Papua menyerahkan hatinya dengan tulus. Ia percaya cinta berarti berbagi kehidupan.
Maka ia membuka gunung-gunungnya.
“Ambillah emas ini,” katanya lembut.
“Gunakan untuk membangun rumah kita.”
Jakarta tersenyum.
Papua membuka hutannya.
Ia membuka lautnya.
Ia membuka tanahnya.
Namun cinta yang semula seperti mata air perlahan berubah menjadi musim panjang penghisapan.
Tahun-tahun berlalu.
Jakarta berubah.
Ia tak lagi menatap Papua sebagai kekasih, melainkan sebagai tambang yang tak boleh berhenti menggali dirinya sendiri. Tubuh Papua mulai dipenuhi luka-luka. Gunung-gunungnya dibelah. Sungai-sungainya dikeruk. Hutan-hutannya dibakar. Lelaki-lelaki asing berdasi datang bersama investor hitam, membawa peta, kontrak, dan alat berat.
Dan Jakarta berdiri di belakang mereka.
Ia berselingkuh dengan banyak lelaki:
lelaki tambang, lelaki sawit, lelaki nikel, lelaki proyek, lelaki kekuasaan.
Mereka mencium tangannya sambil menancapkan ekskavator ke dada Papua. Papua tetap bertahan.
Sebab ia masih mencintai Jakarta.
Tetapi cinta yang terlalu lama diinjak akan berubah menjadi duka yang mengeras seperti batu.
Pada suatu petang musim kemarau, ketika matahari tenggelam merah darah di ufuk Selatan, Papua duduk sendiri di tepi Sungai Digul.
Angin membawa bau lumpur rawa yang baru digusur.
Di kejauhan terdengar raungan mesin-mesin raksasa melahap hutan leluhurnya.
Ia memandang ke arah Barat.
Ke arah perempuan yang selama ini ia panggil kekasih.
Matanya berkaca-kaca.
Bukan tangis seorang pengecut, melainkan tangis seorang lelaki setia yang akhirnya sadar bahwa dirinya hanya dicintai selama masih bisa dieksploitasi.
“Kurang apa aku, Jakarta?” bisiknya lirih.
“Tujuh gunung emas kuberikan. Laut dan gas kubukakan. Kayu dan tanah kuhibahkan. Tetapi mengapa engkau masih lapar?”
Langit senyap.
Burung-burung meninggalkan rawa.
Papua mengepal tanah leluhurnya dengan tangan gemetar.
Kini bahkan tiga juta hektar rawa dan hutan adat di Boven Digul, Mappi, dan Merauke hendak diubah menjadi ladang ambisi. Pohon-pohon tua yang telah hidup sebelum sejarah manusia ditulis tumbang satu per satu seperti tubuh para leluhur yang dieksekusi.
Dan Jakarta tetap tersenyum di meja-meja perjamuan.
Memakai gaun pembangunan.
Memoles bibirnya dengan kata-kata kemajuan.
Sementara tubuh Papua perlahan menjadi kuburan bagi dirinya sendiri.
Malam itu di bawah pendar bintang-gemintang bumi Delatan Papua akhirnya mengerti:
yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan hutan, emas, atau tanah.
Melainkan dicintai oleh seseorang yang terus mengucapkan “aku untukmu”, sambil diam-diam menjual nafsunya kepada dunia.
Sungai Digul terus mengalir.
Dan di bawah langit Timur yang luka, seorang lelaki bernama Papua mulai mempertimbangkan sesuatu yang tak pernah ingin ia pikirkan sebelumnya:
apakah cinta masih layak dipertahankan bila kesetiaan hanya dibalas dengan kerakusan?
#pestababi #papuaselatan #papua #merauke #papuabukantanahkosong





