Hei, anak muda yang lagi asyik bergaji miliaran di luar negeri! Kalau dada Anda
mendadak bergetar mendengar lagu “Bagimu Negeri”, buruan minum parasetamol atau cek ke psikiater. Itu bukan panggilan jiwa, itu gejala awal kerusakan nalar. Jangan nekat pulang, kecuali cita-cita Anda memang ingin cosplay pakai rompi oranye Kejaksaan.
Mari belajar dari kebodohan heroik Ibam, nama aslinya Ibrahim Arief. Dia ini tech-bro lulusan luar negeri yang nolak gaji Rp5,1 miliar dari Facebook UK demi “membangun bangsa” lewat digitalisasi pendidikan. Hasilnya? Beliau sukses dituntut 15 tahun penjara dan denda Rp16,9 miliar dalam kasus Chromebook. Return on Investment (ROI)
paling nyungsep abad ini! Ternyata, harga sebuah idealisme di negeri ini jauh
lebih mahal dari KPR rumah di kawasan elit..
Sirkus persidangannya pun layak dapat piala Oscar kategori Komedi Absurd.
Pertama, phobia bahasa asing. Jaksa menuduh Ibam korupsi karena hartanya
mendadak naik. Usut punya usut, itu dari pencairan saham startup alias ESOP.
Tapi maklum, di mata aparat yang vibes-nya masih zaman mesin tik Brother,
istilah “ESOP” itu mungkin dikira nama pesugihan digital atau varian aplikasi
judi slot. Pokoknya, kalau kaya bukan dari jualan tanah atau batu bara, pasti
duit haram! Dalam fakta persidangan, tidak ditemukan aliran dana yang diterima Ibam.
Kedua, ahli IT yang harus diajarin IT. Jaksa bawa saksi “Ahli IT” yang saking
gapteknya, sampai harus diajarin masalah teknis oleh Ibam yang berstatus
terdakwa. Ini ibarat Anda dituduh malapraktik bedah jantung, dan saksi ahli yang memberatkan Anda adalah tukang urut patah tulang yang bingung bedanya pembuluh darah sama kabel charger.
Ketiga, sulap birokrasi. Ibam ini cuma konsultan eksternal yang ngasih saran.
Eh, simsalabim, namanya mendadak nongol di SK pejabat! Di sistem birokrasi kita, nama Anda bisa diculik ke dalam dokumen lebih cepat dari tuyul nyolong duit. Pejabat yang tanda tangan asyik ngopi, Anda yang cuma ngasih saran teknis malah disuruh nginap di balik jeruji. Adil banget, kan?
Kesalahan fatal Ibam sebenarnya cuma satu: dia mau bikin sistem IT yang
transparan. Padahal, membawa transparansi ke birokrasi Indonesia itu ibaratmenyalakan lampu sorot 10.000 watt di sarang vampir. Birokrat kita itu cuma suka “digitalisasi” kalau artinya “beli tablet mahal pakai duit negara” (baca: komisi
cair). Kalau sistemnya transparan, ruang abu-abu hilang, oknum nggak bisa jajan.
Tentu saja para vampir marah dan butuh tumbal!
Jadi, buat para Gen-Z dan Milenial yang lagi merantau: TETAPLAH DI SANA.
Lanjutkan bikin AI atau roket di Silicon Valley. Kumpulkan capital gain Anda
dengan tenang. Biarkan sistem IT kementerian kita diurus oleh bapak-bapak yang password laptopnya masih “admin123” dan kalau server error solusinya cuma dicabut lalu dicolok lagi.
Simpan saja nasionalisme Anda rapat-rapat. Karena di negara ini, orang pintar itu tidak untuk dipekerjakan, tapi untuk dikorbankan. Cheers!
Foto: Kompas.com































































